Untuk Ibu

Dari jemarimu
aku teringat kamu yang setiap pagi mengelus tanganku
membangunkanku subuh, sudah dengan teh hijau di meja kayu
tapi sering hanya kujawab dengan menutup lagi selimut tebalku

Dari telapakmu
aku teringat bau daun bawang yang kamu cincang
untuk menyediakan aku makan siang
yang sering tak kumakan, karena aku belum pulang

Dari bibirmu
aku teringat kata-kata bijak yang kamu berikan
ketika aku berkeluh kesah tentang hidup, tentang angan-angan
seiring dengan senyummu, kamu berkata bahwa ada usaha di balik semua keberuntungan

Dari matamu
aku teringat sorot mata hangat yang membuatku mantap
saat aku membutuhkan penyemangat agar cita-citaku tak menguap
sorot mata itu pula yang mengantarkanku terlelap ketika bebanku meluap

Dan dari semua bagian itu,
seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usiamu
garis-garis di sekitar jemarimu, telapakmu, bibirmu, matamu, dan semua bagian tubuhmu
pun semakin bertambah, semakin membuatmu sayu
namun cintamu kepadaku, kepada anak-anakmu tak pernah layu
Terima kasih Ibu
untuk segala hal dalam hidupmu
yang kami sita hanya untuk bahagiaku, bahagia anak-anakmu
yang dengan sederhananya bisa kamu anggap sebagai bahagiamu

Comments

Popular posts from this blog

Berlin: a short yet sweet escape

Rijang

dua ribu tiga belas sudah lunas?