18 jam di Berlin adalah sebuah pelarian yang (terlalu) pendek namun sangat manis. Berlin adalah kota yang aku impikan untuk dapat dikunjungi. Choosing Berlin as my short escape was totally a good decision to get a good start for my next challeging 7 weeks. It ends up as a sweet escape.
 |
| Alexanderplats Underground at the morning, just before rush hour |
|
 |
| Foto di depan The Neptune Fountain of Berlin |
 |
| Berliner Dom |
 |
| Di antara pilar |
 |
| The 4 bathers statue |
|
|
 |
| The iconic berlin's gate: Brandenburg Gate |
 |
| Berjalan ke Reichstag dari Brandenburg Gate lewat Simsonweg dan menemukan penjual gelembung yang sangat baik dan penjual Brez'n |
 |
| Reichstag |
 |
| Memorial to the Murdered Jews in Europe |
 |
| Just try to imagine the fear and pain |
 |
| The famous kiss: Honecker and Brezhnev |
Berlin adalah kota yang luar biasa. Berlin membuatku diam, bersyukur, dan takjub. Diam membayangkan kekejaman masa lalu. Tidak pernah terbayang sakit dan takutnya mereka yang hidup di masa itu. Bersyukur karena kita dilahirkan di jaman ketika kekerasan fisik dan kekejaman tirani telah berakhir. Setidaknya kekejaman yang kita rasakan sekarang bukanlah kekejaman fisik secara masal. Bayangkan betapa "sialnya" mereka yang terlahir dari orang tua yahudi, sehingga pasti menjadi seorang yahudi dan berakhir dibunuh dengan kejam pada masa WWII.
Tapi Berlin tidak takut untuk menunjukkan sejarah kelamnya. Mereka menunjukkan sejarah yang mereka miliki dengan membangun beberapa memorial spots seperti jewish memorial dan gypsies memorial. Mereka menjadikan tembok berlin sebagai open gallery agar pemberontakan yang terjadi (yang sebenarnya baru berakhir kurang dari 30 tahun yang lalu) menjadi sebuah pelajaran. Mereka tidak takut belajar dari sejarah kelam.
Comments
Post a Comment