Be worry, (then) be happy
I am pretty much screwed. It is literally me in these few days. Deadline is consuming me but my brain doesn't work well anymore. I work from 8-tired. But from 3 what I do is just staring my screen, trying to spill everything down in my word document. I am burnt out and I know this is a warning to myself that I need a help.
Setahun yang lalu, apa yang aku lakukan pada kondisi seperti ini? Nangis. Iya, nangis tiap hari. Bangun tidur nangis, liat kaca nangis, siap-siap ke kampus perasaan kacau balau dan ujung-ujungnya nangis. Sampai-sampai psychosomatis, sakit di fisik tapi sebenarnya yang sakit jiwanya. Bukan gila, tapi stress. Jadi aku sakit perut sebulan penuh, kepala sakit, ga bisa konsentrasi, mata susah fokus. Secara fisik ga terjadi apa-apa, tapi ya sakit. Mengenaskan sih memang. When I am reminiscing those times, it felt terrible. How life did stuffs to me. Mungkin itulah yang membentuk aku hari ini.
Yang aku lakukan di masa-masa itu adalah mencari pertolongan. Aku ga malu datang ke temanku yang memang belajar tentang psikologi klinis (Thanks to Mbak Retha). Di situ aku benar-benar ditangani secara profesional. Long story short, terapi yang disarankan oleh ahli worked on me. Ada 3 pilihan terapi, tapi yang aku ingat cuma 2, nafas dan worrying period. Di sini aku ga akan jelasin terapi-terapi itu. Bukan kapasitasku.
Back to this present time, something happens to myself. Aku tau aku burnt out. Tapi saking burnt outnya sampai aku yang hari ini cuma bisa diem. I keep on working, but it is ineffective work. I do not implement the therapy to myself. I know I need to do it. I tried, not only once. Aku ga sabar untuk melakukan teknik pernafasan. Aku mencoba worry yang terjadwal, mencoba menangis, tidak bisa. Sesungguhnya yang terkahir ini yang aku butuhin. Nangis. I really want to cry, a lot. Tapi separuh dari diriku mikir kalau nangis cuma bikin mata capek dan menghabiskan waktu. Aku berusaha menyisihkan pikiran itu, at least biar bisa nangis. But I can't. Jadi ya sejauh ini curhat aja sih dengan wajah datar (everyone who knows me they know how expressive I am). It is the only thing that keeps me sane and making a right decision on life.
So here I am, writing a story of my bad day. To anyone out there that has the same problem: Don't feel lonely! Run to your friend. Tell them you have problem or just hug them if you can't throw it from your mouth. Let their love heal you. I hope you can worry, you can express it, you have someone beside you, and you find the silver lining.
Best,
Cancan
Setahun yang lalu, apa yang aku lakukan pada kondisi seperti ini? Nangis. Iya, nangis tiap hari. Bangun tidur nangis, liat kaca nangis, siap-siap ke kampus perasaan kacau balau dan ujung-ujungnya nangis. Sampai-sampai psychosomatis, sakit di fisik tapi sebenarnya yang sakit jiwanya. Bukan gila, tapi stress. Jadi aku sakit perut sebulan penuh, kepala sakit, ga bisa konsentrasi, mata susah fokus. Secara fisik ga terjadi apa-apa, tapi ya sakit. Mengenaskan sih memang. When I am reminiscing those times, it felt terrible. How life did stuffs to me. Mungkin itulah yang membentuk aku hari ini.
Yang aku lakukan di masa-masa itu adalah mencari pertolongan. Aku ga malu datang ke temanku yang memang belajar tentang psikologi klinis (Thanks to Mbak Retha). Di situ aku benar-benar ditangani secara profesional. Long story short, terapi yang disarankan oleh ahli worked on me. Ada 3 pilihan terapi, tapi yang aku ingat cuma 2, nafas dan worrying period. Di sini aku ga akan jelasin terapi-terapi itu. Bukan kapasitasku.
Back to this present time, something happens to myself. Aku tau aku burnt out. Tapi saking burnt outnya sampai aku yang hari ini cuma bisa diem. I keep on working, but it is ineffective work. I do not implement the therapy to myself. I know I need to do it. I tried, not only once. Aku ga sabar untuk melakukan teknik pernafasan. Aku mencoba worry yang terjadwal, mencoba menangis, tidak bisa. Sesungguhnya yang terkahir ini yang aku butuhin. Nangis. I really want to cry, a lot. Tapi separuh dari diriku mikir kalau nangis cuma bikin mata capek dan menghabiskan waktu. Aku berusaha menyisihkan pikiran itu, at least biar bisa nangis. But I can't. Jadi ya sejauh ini curhat aja sih dengan wajah datar (everyone who knows me they know how expressive I am). It is the only thing that keeps me sane and making a right decision on life.
So here I am, writing a story of my bad day. To anyone out there that has the same problem: Don't feel lonely! Run to your friend. Tell them you have problem or just hug them if you can't throw it from your mouth. Let their love heal you. I hope you can worry, you can express it, you have someone beside you, and you find the silver lining.
Best,
Cancan
Comments
Post a Comment