Membedakan yang patut dan tidak patut untuk dikomentari
Selamat natal untuk semua yang merayakan dan selamat berlibur bagi yang mendapat jatah libur panjang maupun short break dari rutinitas yang melelahkan dan menjemukan :)
Apa kabar teman-teman? Winter di groningen saat ini sedang hangat. Suhu di atas 0 and it's good. Salju datang lebih awal tahun ini. Sayangnya leleh dengan cepat di ujung utara Belanda. I wish I had a second chance to build my own snowman and skating on the frozen lake this year.
Winter adalah saat yang berbahaya, kata orang. Winter blues. Depresi karena tonenya yang gelap, matahari muncul cuma bentar, dan dingin yang menggigit kalau mau ngirit tagihan (problema mahasiswa rantau). Tapi keheningan winter juga memberikan jeda pada otak, agar bisa berkelana dalam kesunyian.
Dikarenakan tahun ini aku ga ke mana-mana, jaga kandang di Groningen, hati ini benar-benar diberi waktu untuk sendiri. All of my closest friends are either having holiday abroad or going back to Indonesia (to taste a tropical touch again. I'm so longing to the humid-sweating weather there). Kobul, sebutan yang aku berikan buat teman-teman bule, stands for konco bule, sedang kumpul keluarga menikmati natal. Sooo this is me, all alone here, memaksakan otak untuk produktif mengejar target hahaha.
Belakangan aku lagi diterpa berbagai informasi tentang si A, tentang si B, dan tentang hubungan si A dengan si B. Informasi itu yang bisa disebut khalayak umum GOSIP, yang mana makin digosok makin sip. Di awal-awal informasi itu beredar sih, uuuh seru banget dengernya. Satu hari, dua hari, tiga hari, satu minggu, dst. aku terpapar gosip itu. Jujur, lelah. Buatku, gosip selalu menyenangkan di awal, tapi kalau kebanyakan... It's exhausting. Apalagi kalau merembet ke cerita lain dan dikait-kaitkan dengan karakter orang-orang yang bersangkutan. Rasanya gerah aja. Kadang merasa ga punya hak untuk berkomentar karena diri ini juga penuh dosa dan sering membuat keputusan-keputusan prematur juga dalam hidup. Guys, para penggosip, tidakkah kalian merasakan hal yang sama?
Aku menyadari aku bukanlah orang suci yang ga pernah bergosip. Aku juga pernah gossiping (sering malah) tentang hidup orang, sampai sekarang juga masih melakukannya. Tapi pernah ga kalian, waktu lagi ngomongin orang, tiba-tiba mikir "do I have a right to comment this? Is this ethically appropriate to spread this news? How do I feel if I am on his/her shoes?" Aku pernah berada dalam titik itu. Rasanya merasa bersalah tau banyak tentang kehidupan pribadi orang lain dari cerita orang lain dan dengerinnya rame-rame (jadi banyak juga yang dengerin). Bukankah kita sudah sibuk dengan urusan kita sendiri? Sedihnya adalah pengen tau banget tentang urusan orang lain atau kepo merupakan kebiasaan kebayakan orang Indonesia. We just need to think and stop the talk, start with ourself. Untuk aku sendiri, aku ga enak buat ngomongin orang terlalu jauh, terlalu dalam, simply because i can imagine how it feels if the whole community judge you, they know the wrong story, but everyone is believe that story. Mau mengklarifikasi kok ya banyak yang harus didatangi dan dikasih tau kebenarannya. Udah gitu nanti masih diomongin juga karena melakukan klarifikasi. Kalau kata orang, "time will answer." Dan ya memang bener, waktu akan menjawab, tapi malunya, keselnya, dan sakit hatinya menguras tenaga.
Ada juga kebiasaan orang Indonesia yang melelahkan, yaitu ngomentarin hidup orang. Berawal dari ngomentarin untuk fun, lama-lama jadi watak untuk ngomentarin apapun. Lagi-lagi, aku pun juga pernah melakukan itu. Rasanya susah banget buat ga dikit-dikit komentar. Kalau di kampung ya, ibu-ibu tu yang dikomentarin adaaa aja. Dari masalah anaknya si A bajunya itu-itu aja, bu B bikin acara makanannya kok cuma gitu, sampai bu C nyumbangnya cuma segitu. Who are you guys to comment those kind of businesses? Ga merasa bersalah kah? Patut kah? Menurutku penting banget buat semua orang, untuk menimbang apakah kalimat yang akan kita keluarkan dari mulut patut atau tidak. Gimana rasanya sebagai yang punya acara kalau masalah suguhan di acara pengajian ada rambutnya aja dikomentarin.
Setelah mendengar opini beberapa orang mengenai fenomena di komunitas Indonesia yang sering muncul di mana aja tentang gosip dan komentar-komentar yang bersliweran yang bisa saja menerpa bahtera kehidupan kita, kesimpulannya adalah mau ngapain aja, pada akhirnya apapun bisa dikomentarin *sigh. Bener juga sih. Aktif, dikomentarin. Diam, dikomentarin. Semacam hubungan sepasang kekasih aja. Di mana si cowok selalu salah di mata si cewek. Bahkan napas aja salah hahaha.
Salam hangat dari Groningen yang dingin,
Candra Rahmani Priyambada
Apa kabar teman-teman? Winter di groningen saat ini sedang hangat. Suhu di atas 0 and it's good. Salju datang lebih awal tahun ini. Sayangnya leleh dengan cepat di ujung utara Belanda. I wish I had a second chance to build my own snowman and skating on the frozen lake this year.
| Snow was coming early this year |
Dikarenakan tahun ini aku ga ke mana-mana, jaga kandang di Groningen, hati ini benar-benar diberi waktu untuk sendiri. All of my closest friends are either having holiday abroad or going back to Indonesia (to taste a tropical touch again. I'm so longing to the humid-sweating weather there). Kobul, sebutan yang aku berikan buat teman-teman bule, stands for konco bule, sedang kumpul keluarga menikmati natal. Sooo this is me, all alone here, memaksakan otak untuk produktif mengejar target hahaha.
Belakangan aku lagi diterpa berbagai informasi tentang si A, tentang si B, dan tentang hubungan si A dengan si B. Informasi itu yang bisa disebut khalayak umum GOSIP, yang mana makin digosok makin sip. Di awal-awal informasi itu beredar sih, uuuh seru banget dengernya. Satu hari, dua hari, tiga hari, satu minggu, dst. aku terpapar gosip itu. Jujur, lelah. Buatku, gosip selalu menyenangkan di awal, tapi kalau kebanyakan... It's exhausting. Apalagi kalau merembet ke cerita lain dan dikait-kaitkan dengan karakter orang-orang yang bersangkutan. Rasanya gerah aja. Kadang merasa ga punya hak untuk berkomentar karena diri ini juga penuh dosa dan sering membuat keputusan-keputusan prematur juga dalam hidup. Guys, para penggosip, tidakkah kalian merasakan hal yang sama?
Aku menyadari aku bukanlah orang suci yang ga pernah bergosip. Aku juga pernah gossiping (sering malah) tentang hidup orang, sampai sekarang juga masih melakukannya. Tapi pernah ga kalian, waktu lagi ngomongin orang, tiba-tiba mikir "do I have a right to comment this? Is this ethically appropriate to spread this news? How do I feel if I am on his/her shoes?" Aku pernah berada dalam titik itu. Rasanya merasa bersalah tau banyak tentang kehidupan pribadi orang lain dari cerita orang lain dan dengerinnya rame-rame (jadi banyak juga yang dengerin). Bukankah kita sudah sibuk dengan urusan kita sendiri? Sedihnya adalah pengen tau banget tentang urusan orang lain atau kepo merupakan kebiasaan kebayakan orang Indonesia. We just need to think and stop the talk, start with ourself. Untuk aku sendiri, aku ga enak buat ngomongin orang terlalu jauh, terlalu dalam, simply because i can imagine how it feels if the whole community judge you, they know the wrong story, but everyone is believe that story. Mau mengklarifikasi kok ya banyak yang harus didatangi dan dikasih tau kebenarannya. Udah gitu nanti masih diomongin juga karena melakukan klarifikasi. Kalau kata orang, "time will answer." Dan ya memang bener, waktu akan menjawab, tapi malunya, keselnya, dan sakit hatinya menguras tenaga.
Ada juga kebiasaan orang Indonesia yang melelahkan, yaitu ngomentarin hidup orang. Berawal dari ngomentarin untuk fun, lama-lama jadi watak untuk ngomentarin apapun. Lagi-lagi, aku pun juga pernah melakukan itu. Rasanya susah banget buat ga dikit-dikit komentar. Kalau di kampung ya, ibu-ibu tu yang dikomentarin adaaa aja. Dari masalah anaknya si A bajunya itu-itu aja, bu B bikin acara makanannya kok cuma gitu, sampai bu C nyumbangnya cuma segitu. Who are you guys to comment those kind of businesses? Ga merasa bersalah kah? Patut kah? Menurutku penting banget buat semua orang, untuk menimbang apakah kalimat yang akan kita keluarkan dari mulut patut atau tidak. Gimana rasanya sebagai yang punya acara kalau masalah suguhan di acara pengajian ada rambutnya aja dikomentarin.
Setelah mendengar opini beberapa orang mengenai fenomena di komunitas Indonesia yang sering muncul di mana aja tentang gosip dan komentar-komentar yang bersliweran yang bisa saja menerpa bahtera kehidupan kita, kesimpulannya adalah mau ngapain aja, pada akhirnya apapun bisa dikomentarin *sigh. Bener juga sih. Aktif, dikomentarin. Diam, dikomentarin. Semacam hubungan sepasang kekasih aja. Di mana si cowok selalu salah di mata si cewek. Bahkan napas aja salah hahaha.
Salam hangat dari Groningen yang dingin,
Candra Rahmani Priyambada
Comments
Post a Comment