Yang aku pelajari dan yang aku rasakan

Pernahkah kamu meresahkan apa yang terjadi dalam hidupmu, teman-teman? Saya sering. Ini sering banget aku rasakan sebelum tidur, ketika aku sudah landing di kasur ikea murahku dengan punggung yang terasa pegal karena seharian di lab atau di depan komputer atau cuma jalan-jalan ke centrum dan beli produk kecantikan murah di daerah Herestraat. Belakangan, ketika aku mulai hidup  di Groningen, kota tempat aku menempuh pendidikan master (silakan googling kota tersebut), kerap kali aku berkontemplasi tentang hal-hal yang aku pelajari dan aku rasakan.

Pertama, hal yang aku pelajari. Sangat banyak ilmu yang aku dapat di ibu kota provinsi paling utara di Belanda. Kalau ngomongin ilmu bioteknologi, sudah seharusnya aku gain more knowledges because I am studying molecular biology and biotechnology here. Tetapi bukan itu yang justru bikin aku resah. Aku sudah hidup lebih dari 20 tahun, tapi semakin saya pergi jauh, semakin saya bertemu dengan banyak orang, semakin saya membaca buku pelajaran saya, saya semakin merasa tertinggal. Saya merasa sangat kecil karena pengetahuan umum saya sangat minim. Saya merasa sangat jauh tertinggal terkait perkembangan politik Indonesia dan luar negeri. Saya merasa sangat bodoh jika berbincang tentang ilmu agama. Saya merasa saya sudah mempercayai sesuatu tetapi saya tidak bisa mengargumentasikan pilihan saya. I realize I only learnt few this whole time. Saya perlu belajar banyak dan ngebut. Sekarang saya berada pada titik belajar bioteknologi aja enggak cukup buat menjadikanku sebagai orang yang berkualitas dan lawan diskusi yang baik. Ngomong-ngomong, orang belanda basa-basinya bukan artis siapa selingkuh sama siapa tjuy, intermezzo mereka politik dunia atau headlines yang lagi marak di media. Berat bro kalau enggak banyak baca.

Kedua, hal yang aku rasakan.
Ini susah.
Jujur, ketika aku dapat kesempatan sekolah lagi di Belanda, aku merasa komplit karena pada saat itu cita-cita saya tercapai. Setiba di Groningen, selepas honeymoon phase yang buat aku hanya berlangsung selama 2 minggu, hidup terjungkir balik. Setiap 3 minggu saya ujian untuk 1 course. Kegagalan adalah sahabat dekat saya di 6 bulan pertama kuliah. November adalah kali pertama saya menangis dalam bahasa inggris. Susah. Menjelaskan perasaan waktu kita nangis aja susah kan, guys? Apalagi harus pakai bahasa inggris di depan study advisor. Saya terpuruk. Stress. Merasa usaha saya enggak ada gunanya karena memang saya ini bodoh. But, in your hardest time you find yourself.

Tapi di balik tangisku, aku juga bahagia kok di sini, seperti yang selalu saya tampilkan di feed instagram saya. Bahagia, penuh tawa, dan penuh syukur. Karena pada kenyataannya memang begitu, mengingat Eropah adalah tanah impian saya. Buat apa kan saya nunjuk-nunjukkin air mata saya. Malah diceng-cengin teman-teman saya nanti (karena mereka semua juga mengalami yang saya lalui dan mereka survived). Jadi, untuk memberi reward kepada diri saya sendiri, saya kerap meyisihkan uang untuk bisa jalan-jalan menikmati keberagaman yang dikasih Allah. Cuma setiap saya jalan, lagi-lagi saya berkontemplasi. Guys, kita ini kecil banget loh. Manusia ada banyak. Alam ada berbagai bentuk. Dan itu semua dibikin oleh Sebuah Zat, yang bagi umat Islam disebut sebagai Allah, Tuhan yang Hanya Satu. Isn't that amazing?

Pada intinya saya banyak bersyukur dibukakan kesempatan untuk hidup sendiri dan jauh. Saya bisa mikir, saya bisa kenal diri sendiri, dan saya bisa menghargai segala sesuatunya dengan lebih baik.

Salam,
Cancan

P.S. Foto-foto yang saya attach enggak ada hubungannya sama isi post

My first snow in Groningen
Siluet diri

Membidik Menara Pisa

Colosseum

Someone painted the narrow street in Florence

Venice

Senantiasa memegang dada Mbak Juliet demi keberuntungan dalam hal cinta. Hahahaha

My very first experince having fun in tulip field





Comments

Popular posts from this blog

Berlin: a short yet sweet escape

Rijang

dua ribu tiga belas sudah lunas?