18 jam di Berlin adalah sebuah pelarian yang (terlalu) pendek namun sangat manis. Berlin adalah kota yang aku impikan untuk dapat dikunjungi. Choosing Berlin as my short escape was totally a good decision to get a good start for my next challeging 7 weeks. It ends up as a sweet escape. Alexanderplats Underground at the morning, just before rush hour Foto di depan The Neptune Fountain of Berlin Berliner Dom Di antara pilar The 4 bathers statue The iconic berlin's gate: Brandenburg Gate Berjalan ke Reichstag dari Brandenburg Gate lewat Simsonweg dan menemukan penjual gelembung yang sangat baik dan penjual Brez'n Reichstag Memorial to the Murdered Jews in Europe Just try to imagine the fear and pain The famous kiss: Honecker and Brezhnev Berlin adalah kota yang luar biasa. Berlin membuatku diam, bersyukur, dan takjub. Diam membayangkan kekejaman masa lalu. Tidak pernah terbayang sakit dan takutnya mer...
Kita seperti api dan batu membara ketika disatukan mengalahkan baja ketika menyala tak tersentuh ketika membara Kita tak diciptakan untuk saling melemahkan berdiri sendiri pun kamu dan aku bisa menaklukkan dunia namun untuk apa kita bertemu jika kita tidak bersatu?
Satu kita berharap janji-janji bertaburan mimpi-mimpi digantungkan toh itu semua gratis apa salah? dua tiga empat semangat membara ingin berada di garis terdepan tak kenal lelah haram jadi halal halal jadi haram lima enam tujuh delapan hidup terasa tak adil di mana Tuhan ketika dicari peluh bertetesan tapi selalu tak terjawab apa guna doa usaha sembilan sepuluh sebelas bedebah sudah segala cita-cita hidup terus berjalan bumi terus berputar buat apa bermuram durja masih bisa tertawa kan? dua belas dari satu sampai sebelas hanya dua belas mau ke mana di akhir dua belas? hanya menggantung dan mencaci harapan? atau terus berusaha menggapai satu-satu yang sebelumnya?
Comments
Post a Comment