My Confession: Stop Bullying

Pada suatu malam, di sebuah cafe, aku dan kedua sahabatku sedang ngobrol, hingga obrolan tersebut mencapai topik "bullying".

Sahabat 1: Kamu pernah dibully?
Sahabat 2: Pernah. Sial.
Sahabat 1: Iya, ini kemarin pertama kalinya aku dilabrak. Anj*ng. Kamu pernah dibully?
Aku: ....
Sahabat 2: Ah, dia sih yang ngebully.
Aku: Duh.

I'm not sure every girl has ever bullied or bullying. I have ever been in both situation. Pengalaman dilabrak kakak angkatan aku alami waktu SMP. Alasannya, saya deket sama kakak angkatan yang disukai senior. Waktu itu ada tiga senior yang datang ke aku. Mereka semua teman-teman dari senior yang sangat aku percaya. Sedih ya, dikhianati kakak angkatan yang udah dianggap sahabat. Awalnya mereka tanya-tanya tentang hubungan kami (aku dan senior), semakin lama mereka ngejek saya. Bilang kalau aku ga pantes deket sama si cowok lah, disuruh ngaca lah, disuruh mundur lah, dan kemudian mereka pergi. Udah cuma begitu, tapi aku sebel banget nget nget. Itu pengalaman pertama saya dilabrak, yang semakin sering diejek dan "dinasehati", aku semakin kebal. Tapi prinsipku, selama aku ga salah, still I gotta keep my head up high along the way. At least sepanjang koridor yang sama dengan senior. Mungkin itu yang bikin mereka semakin pengen melabrak aku.

Pengalaman tentang dilabrak ini, selama aku masih SMP dulu, aku ga pernah cerita sama teman-temanku.

Dilabrak sudah pasti ga enak. Pun melabrak, apalagi kalau melabrak teman seangkatan karena disuruh. Hmm, saya pernah melabrak karena keinginan pribadi dan karena disuruh waktu SD (yup, SD) dan SMA. Waktu SD, aku punya kenalan yang bener-bener aku dan teman-temanku ga suka. Dan dia juga ga suka sama kami. Aku akui, dia tangguh banget meskipun suka lapor ke orang tuanya. Orang tuaku pernah negur aku karena kelakuanku. Tapi, ya namanya juga anak SD (atau mungkin aku emang nakal), walaupun udah ditegur masih aja sering berantem sama bocah itu. Kalau waktu SMA, orang yang aku labrak ini emang ga disukai sama cewek-cewek seangkatan dan kakak angkatan. Selama melabrak, saya ga pernah main fisik, saya selalu main psikis. Alasannya, aku ngajak ketemu sasaran aja dia udah nangis apalagi pakai acara ditampar, misalnya. Melabrak itu enggak enak apalagi kalau kamu punya otak. Maksudku, kenapa sih harus melabrak? Kenapa enggak ngomong baik-baik aja? Berutunglah aku karena ga dilaporin ke orang tua atau ke guru. Perasaan bersalah karena melabrak juga bikin aku justru enggak enak sama dia dan teman-temannya (karena pasti dia cerita ke temannya). Apa kata mereka? Aku pasti kelihatan tolol. Aku mau minta maaf sedalam-dalamnya kepada teman seangkatanku yang pernah aku labrak. I was young, fool, and wild. Tapi aku sudah minta maaf ke temanku itu waktu graduation day. So, all bussinesses are clear between us.

Kadang, hal yang kita lakukan tanpa bermaksud melabrak, bisa dianggap labrakan oleh orang lain. Kamu cuma pengen kasih tau "don't do this and that" tapi bisa dianggap sebagai bentuk bullying karena orang tersebut takut banget atau sensitive banget. Kalau menurutmu yang dia lakukan ga bener, mending pakai pendekatan lain deh, jangan langsung bilang ke orangnya secara blak-blakan. Katakan dengan halus dengan basa-basi, tanpa ngomongin dia di belakang (dan itu susah banget dipraktekkan).
So, stop bullying :)


Comments

Popular posts from this blog

Berlin: a short yet sweet escape

Rijang

dua ribu tiga belas sudah lunas?